Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Labuan Bajo, tempat yang ideal untuk kontemplasi dan berpikir secara dalam.

Work-Life Balance ?

Keseimbangan antara karir dan kehidupan pribadi kita...saat ini telah menjadi barang langka. Seringkali saya mendengar keluhan tersebut ketika berbincang-bincang dengan teman.

Mau makan malam dengan tenang bersama keluarga, susah.

Mau bermain dan ngobrol dengan anak-anak, susah.

Mau memenuhi kuota tidur minimum 7 jam sehari, susah.

Mau nge-date tanpa bantuan Tinder, susah.

Mau mengerjakan hobi setelah seharian bekerja keras, susah.

Tidak sedikit yang merasa bahwa tuntutan karir dan pekerjaan di era super cepat ini telah membawa akibat hilangnya work-life balance.

Saya coba mengambil langkah mundur sejenak. Karena saya percaya ada banyak hal yang bisa kita lihat kalau kita bersedia slow down dan mengalokasikan waktu untuk merenung dan berpikir.

Sebenarnya, apa yang membuat kita merasa tidak bahagia adalah jika kita merasa kehilangan kontrol atas hidup kita. Losing control.

Dan salah satu penyebab utama kita kehilangan kontrol adalah ketika kita “tanpa sadar” menghabiskan waktu di aplikasi smartphone kita. Game, sosmed, swiping dan tapping. Rencananya hanya untuk beberapa menit. Tiba-tiba beberapa jam telah berlalu.

Layar smartphone kita telah menjadi salah satu faktor terbesar dalam kehidupan kita.

Satu hal yang pasti: kita mengalokasikan terlalu banyak waktu di smartphone bukan karena kita adalah orang yang lemah dan malas. Bukan itu penyebabnya.

Kita rela mengorbankan quality time untuk bercengkerama dengan keluarga, ditukar dengan waktu di layar smartphone, karena memang banyak aplikasi smartphone dirancang untuk menyedot eyeball dan waktu kita. Dan pada akhirnya untuk meminta “our soul”.

Carl Newport, associate professor bidang computer science di Georgetown University, di buku terbarunya “Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World” menyatakan dengan tegas:

“We didn’t sign up for this”

Kita tidak memilih untuk menjadi pecandu digital.

Kita tidak memilih untuk kehilangan kontrol atas hidup kita dan menyerahkannya ke aplikasi di smartphone kita.

Kita juga tidak memilih untuk pasrah pada desakan entah dari mana untuk mengabadikan semua momen hidup kita, untuk dipersembahkan bagi “teman-teman” visual kita di sosmed.

Semua terjadi karena rancangan dan inovasi aplikasi oleh perusahaan-perusahaan teknologi.

Pembuat aplikasi sangat paham betapa seksinya elemen “unpredictable” dari sebuah aplikasi. Deg-degan menanti apakah sesuatu yang baru kita postingkan akan mendapat banyak “likes” atau tidak. Seperti serunya deg-degan menunggu jawaban ajakan kencan pertama kita dulu.

Unsur ketidakpastian ini seru dan menarik. Bahkan lebih menarik daripada menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta. Lebih menarik daripada berbincang mesra dengan pasangan kita. Atau mendengarkan cerita seru anak-anak kita.

Dan kita masih suka berkeluh-kesah mengenai tidak cukupnya waktu bersama keluarga.

Mungkin yang kita perlukan bukan “work-life balance” melainkan “work-life presence”.

Artinya waktu kita di kantor, berikan 100% fokus dan waktu kita untuk pekerjaan kita.

Demikian juga kalau kita di rumah, kita berikan 100% waktu kita untuk keluarga tercinta. Tanpa gadget, tanpa game, tanpa swiping dan tapping. Tanpa conference call.

Work-life presence. Ini perkara besar. Karena ini mengenai meraih kembali otonomi atas kehidupan kita, dari tangan aplikasi smartphone. Juga mengenai berkata tidak untuk kehidupan kita yang akan direduksi menjadi kumpulan aplikasi. Dan meraih kembali konektivitas dengan orang-orang tercinta di sekitar kita.

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 28 Mei 2019

 

Post by Author

Posted by Wuddy Warsono on June 11, 2019 Kisah 399

“Life isn’t about waiting for the storm to pass. It’s about learnin... → More Information


Posted by Wuddy Warsono on May 20, 2019 The Art of Doing Nothing ala Ngawi

Dua puluh dua tahun yang lalu, saya mencoba jalan darat naik mobil dari Jakarta ke Surabay... → More Information


Posted by Wuddy Warsono on May 15, 2019 Soal Mayoritas dan Minoritas, pelajaran dari Green...

Dalam satu penerbangan jarak jauh, saya sempat nonton film Green Book. Film ini banyak men... → More Information


Posted by Wuddy Warsono on May 13, 2019 On Delayed Gratification

Di New York City, saya bertemu dengan pengemudi Uber Oumarou Salou Djibo. Oumar berasal... → More Information


Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Kisah 399

“Life isn’t about waiting for the st...

Tags : Investasi, Uang,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Work-Life Balance ?

Keseimbangan antara karir dan kehidupan pribadi ki...

Tags : Investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono The Art of Doing Nothing ala Ngawi

Dua puluh dua tahun yang lalu, saya mencoba jalan ...

Tags : Investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Soal Mayoritas dan Minoritas, pelajaran dari Green Book

Dalam satu penerbangan jarak jauh, saya sempat non...

Tags : Investasi,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.