Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Belajar menghadapi perubahan

Tersenyum di Depan Tembok

Kita berada pada titik di mana pandemi Covid-19 memiliki potensi untuk mendisrupsi banyak hal dalam hidup, bahkan setelah badai pandemi telah berlalu. Namanya perubahan dan tantangan baru, tentu banyak di antara kita yang gelisah, bahkan stres.

Buat saya sendiri, perubahan ini tentunya juga membawa banyak tantangan baru. Misalnya, baru-baru ini saya diminta menjadi pembicara di salah satu conference call digital sebuah organisasi keagamaan untuk entrepeneur muda. Kita semua tahu betapa beratnya kondisi yang dihadapi para pengusaha dalam krisis Covid ini. Jadinya saya kok merasa tidak elok menolak pinangan menjadi pembicara di acara ini. Topiknya seputar update situasi dunia investasi. 

Walau - karena tuntutan profesi - sudah punya jam terbang lumayan panjang sebagai pembicara, ternyata saya merasakan ada perbedaan besar antara presentasi langsung dengan presentasi melalui aplikasi digital. Biasanya saya akan mendapatkan energi dari penonton, dan sebaliknya. Jadi, dibanding dengan presentasi riil, presentasi via Zoom boleh dibilang terasa kering banget. 

Ibarat bicara dengan laptop, kurang lebih begitu rasanya. Bagi saya yang banyak mengandalkan interaksi dan spontanitas dalam presentasi riil, presentasi digital ini rasanya seperti ngobrol dengan teman bicara yang lagi sibuk main hape. Semua terasa one-sided. Saya tidak bisa melihat raut muka audience. Kalau bikin joke tidak tahu mereka memberi respons atau tidak. Rasa frustasi sewaktu melakukan presentasi secara digital dapat menyergap setiap waktu, karena serasa sedang berbicara dengan tembok. 

Internet memang sempat ngadat plus hujan turun. Suara kencang sekali, saya nggak yakin apakah audience bisa mendengar suara saya dengan jelas atau ditelan suara hujan. Apa yang mereka dengarkan dengan yang saya dengarkan tidak sama.

Seorang teman yang jagoan dunia digital memberi saya beberapa saran, yang kelihatan sederhana tapi ternyata tidak mudah. Seperti resep investasi Warren Buffett, simple but not easy. Misalnya teman saya bilang jangan lupa banyak tersenyum. Tapi, saat presentasi digital, kok saya lupa semua. Mungkin karena saya nggak suka senyum-senyum sendiri (saya yakin teman saya juga nggak suka tapi mungkin sudah sering berlatih). 

Satu hal yang saya petik dari sini adalah betapa revolusi digital yang diagung-agungkan itu ternyata sangat kekurangan emosi dan koneksi manusia yang paling tulus. 

Tentu bukan berarti dunia digital tidak bisa mencetak koneksi manusia yang dalam. Tapi toh tidak akan sama dengan pertemuan secara fisik.

Mengutip riset pakar antropologi budaya, Dr. Edward T. Hall dalam buku klasiknya yang luar biasa The Hidden Dimension, Dr. Hall menjelaskan betapa pentingnya level kedekatan (proximity) untuk dapat memberikan hasil yang optimal. 

Proximity. Mendiang pengusaha Sudono Salim benar. Hoki datang dari hopeng. Keberuntungan datang dari teman baik atau teman akrab, yang menjadi relasi terpercaya. Makin dekat dengan orang-orang yang tepat, makin besar kemungkinan kita akan sukses mencapai cita-cita.

Kembali ke riset Dr. Hall, dia membagi level kedekatan menjadi tiga tingkat. Yang pertama adalah “public distance”, yaitu yang berjarak lebih dari 12 feet (3,6 meter); suatu jarak yang tidak menghasilkan presisi interaksi. Yang kedua adalah “social distance”, yakni interaksi yang terjadi dalam jarak 4-12 feet (1,2 meter hingga 3,6 meter). Yang ketiga adalah “personal distance”, bentuk interaksi antara sahabat terdekat atau keluarga dari jarak 1 hingga 4 feet (0,3 hingga 1,2 meter). 

Interaksi yang paling menguntungkan secara komersial terjadi dalam level kedekatan kedua dan ketiga, social distance dan personal distance. Tentu ini sebelum zaman Covid-19. Di zaman Covid-19 dan social distancing, mungkin semua harus dikali dua atau tiga. 

Kunci membangun proximity, menurut David Meerman Scott, salah satu pembicara di acara Tony Robbins tahun lalu, adalah shared emotion atau emosi yang dirasakan bersama. Kita paling gembira di saat kita berada di social space atau personal space dengan orang lain dan merasakan emosi tertentu. Tertawa bareng atau nangis bareng, misalnya. 

Mungkin itu sebabnya kita tetap nonton live concert, walau disiarkan live di TV. Atau nonton final bulu tangkis Asian Games bareng-bareng di Senayan walau juga disiarkan di TV. Karena ingin merasakan emosi secara bersama.

Kita belajar dari masa isolasi pandemi Covid ini bahwa kita ternyata tidak suka sendirian dan kesepian. Kita mau di sekitar manusia lain. Makin dekat jaraknya, makin kuat emosi yang kita rasakan bersama. Solitude OK, tapi jangan lagi berbulan-bulan please. Itu jeritan hati banyak teman-teman. 

Pemenang hadiah Nobel Amartya, Sen, pernah bilang bahwa ada perbedaan besar antara kita sukarela hanya makan 1,000 kalori per hari karena diet dengan makan 1,000 kalori per hari karena kita hanya mampu beli makanan dalam jumlah terbatas. Memilih solitude dan dipaksa solitude juga demikian. Tidak sama.

Kebutuhan manusia secara emosi akan interaksi tidak akan pernah hilang, dan hal ini sudah ditanamkan melalui proses evolusi yang panjang. Bukankah Homo sapiens bisa menguasai bumi karena kemampuannya untuk bekerja secara tim? Di era pandemi ini kita baru sadar bahwa kesempatan untuk berinteraksi secara offline sering kita anggap remeh, taking it for granted. 

Di dunia investasi saham, kebutuhan untuk berinteraksi dengan teman-teman seperjuangan juga begitu besar. Kalau sendirian itu berat, apalagi di kala pasar saham sedang gonjang-ganjing. Kita perlu berada dalam proximity, dalam kedekatan dengan orang-orang yang cara berpikirnya sama (like-minded people). Supaya dapat tumbuh bersama, merasakan emosi yang sama, tidak mudah putus asa, dan bisa berfokus pada kesempatan yang ada di depan mata.  

Atau dalam bahasa pengusaha dan motivator Jim Rohn, kita adalah rata-rata dari lima orang yang paling banyak kita habiskan waktu bersama. Karena orang di sekitar akan menentukan arah pikiran dan pembicaraan kita. Akhirnya kita mulai berpikir seperti mereka, dengan atau tanpa kita sadari. 

Mengenai presentasi digital, ternyata sebagai follow up presentasi saya tempo hari, masih ada lagi yang mengundang saya sebagai pembicara. Malah dalam level yang lebih besar. Aneh tapi nyata. Mungkin karena pembicara yang lain juga belum bisa banyak tersenyum sendiri di depan tembok. Kita semua masih dalam proses penyesuaian dengan new normal, di saat social distance dan personal distance masih belum memungkinkan untuk kembali kita terapkan.

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 26 Mei 2020.

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Tenang dan Damai

Pada bulan Februari 2018 lalu, saya sakit di neger...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Tersenyum di Depan Tembok

Kita berada pada titik di mana pandemi Covid-19 me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kecanduan Hutang

Kangen WFH?  Berkat WFH, saya jadi rajin b...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kembali ke "Normal"

Kita semua tahu bahwa suatu hari badai Covid-19 ak...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.