Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Jangan makan kue cokelat ini!

Setelah Melompat, Belajar dari Nyai Ontosoroh

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri."

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Dengan melawan kita takkan sepenuhnya kalah."

Nyai Ontosoroh, dalam film Bumi Manusia, yang diadaptasi dari novel karya legenda sastra Indonesia Pramoedya Ananta Toer.


Kalimat-kalimat indah di atas terus terngiang di benak saya sehabis nonton film Bumi Manusia. Begitu indahnya film dan karya sastra ini, Bumi Manusia pun menjadi inspirasi blog saya minggu ini. Cuma seorang Pramoedya yang bisa menulis seperti kutipan di atas.
 
Latar cerita di awal abad-20 dan Surabaya tempoe doeloe juga menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi Wonokromo jadul di Surabaya digambarkan dengan begitu indahnya. Juga karena ada Mawar Eva de Jongh di casting utama. 

Bagi yang belum tahu, Bumi Manusia bercerita tentang seorang pemuda Indonesia dengan nama panggilan (ejekan) Minke yang belajar di Hogere Burger School (HBS), alias Sekolah Menengah Umum untuk kaum Belanda dan para priayi.

Minke jatuh cinta pada Annelies Mellema, gadis cantik dengan sifat kekanakan dan berdarah campuran Belanda-Indonesia. Putri dari pengusaha Belanda Herman Mellema dan mistress-nya, Nyai Ontosoroh.

Tokoh favorit saya di film ini adalah Nyai Ontosoroh. Akting luar biasa Sha Ine Febriyanti di film Bumi Manusia membuat mudah untuk jatuh cinta pada karakter ini. Juga kisah perjuangan sang Nyai yang sangat membenci ayahnya sendiri kerena menjualnya ke Herman Mellema demi jabatan. Kekuatan Nyai menjalani penghinaan dan pengadilan pemerintah kolonial Belanda membuat saya makin terkagum.

Tapi satu hal yang paling mengesankan bagi saya adalah semangat sang Nyai untuk terus belajar. Istilah jaman sekarangnya, punya growth mindset. Mula-mula belajar baca-tulis dari Herman Mellema. Kemudian secara otodidak belajar menjadi pengusaha dengan people skill yang menawan.

Growth mindset dalam bahasa Nyai Ontosoroh: “Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima". Begitu murni dan sederhana. 

Karisma Nyai jelas ada, kelembutan seorang ibu juga ada. Bahkan seorang jagoan tulen Cak Darsam menaruh hormat pada sang Nyai dan hanya mau tunduk pada perintah Nyai.

Pendekatan Nyai ke anak-anaknya juga realistis. Kepada anak lakinya Robert Mellema yang manja dan tidak mau bekerja sama sekali, Nyai mengingatkan bahwa dalam konteks era kolonial Belanda, Robert yang berdarah campuran itu bukan Belanda totok. Konsekuensinya, Robert nggak bisa cuma leyeh-leyeh, santai-santai enjoy the art of doing nothing tiap hari. Beda dengan bapaknya, Herman Mellema, yang Belanda tulen (sebenarnya juga mana tahu tulen apa nggak, waktu itu belum ada tes DNA Genetic semacam 23andMe).

Hidup di jaman itu memang tidak adil. Sebenarnya juga di jaman sekarang, masih banyak juga ketidakadilan. Misalnya soal suku bunga negatif. Nyai Ontosoroh yang tidak pernah sekolah dagang pun pasti protes kalau hidup di jaman ini, karena suku bunga negatif itu melawan akal sehat. Lah masak susah payah menabung, kok malah disuruh “bayar bunga”. Dalam 5000 tahun sejarah manusia, baru kali ini ada suku bunga negatif.

Analis pasar modal pada kebingungan karena spreadsheet-nya kacau balau. Berdasarkan Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang jadi acuan valuasi aset, kalau suku bunga negatif berarti harga wajar aset adalah tak terhingga? Pusing kan?

Balik ke tokoh favorit saya di Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh, bisa dibilang seluruh kisah hidupnya adalah seperti demonstrasi willpower, demonstrasi kemauan untuk terus maju yang tidak ada habisnya.

Walau tahu kemungkinan besar akan kalah di pengadilan kolonial, Nyai pantang mundur. “Dengan melawan, kita tidak sepenuhnya kalah”. Dahsyat. Mudah untuk dikagumi, tapi bukan berarti mudah untuk ditiru.

Kebetulan hari Jumat lalu, seorang sahabat bilang ke saya kalau susah sekali mempertahankan willpower untuk tetap mempertahankan perubahan yang ingin dia adopsi secara permanen di hidupnya. Dalam kasus sahabat saya ini, perubahan tersebut adalah berolahraga secara lebih teratur. Saya bilang ke dia untuk lebih memaafkan diri sendiri dan tidak perlu merasa terlalu frustasi. Dia tidak sendiri.

Saya ceritakan eksperimen mengenai willpower yang pernah dilakukan oleh Baumeister. Dalam eksperimen ini, Baumeister dan rekan-rekannya mengajak anak-anak kuliahan untuk ke lab dia. Mereka diberi instruksi untuk tidak makan apapun selama minimum 3 jam sebelum eksperimen.

Kemudian peserta eksperimen dibagi menjadi 3 grup.

Grup yang pertama diberi cookies cokelat yang super menggoda. Hanya saja, mereka diberitahu bahwa cookies ini tidak boleh mereka makan. Peserta grup satu juga diberi makanan sehat lobak yang diperbolehkan untuk dimakan.

Grup yang kedua diberi opsi makanan yang sama, cookies dan lobak. Bedanya adalah mereka dipersilakan makan yang mereka mau.

Grup yang ketiga tidak diberi makanan sama sekali. Nasibnya mirip-mirip Nyai Ontosoroh yang tidak diberi pilihan oleh ayahnya kecuali untuk jadi istri simpanan Herman Mellema. Well, nggak sedramatis itu, but you get the point...

Setelah itu, ketiga grup ini diberi satu set puzzle yang sebenarnya tidak mungkin untuk diselesaikan. Tapi peserta eksperimen tidak tahu mengenai hal ini. Tujuan dari tes ini adalah untuk mengetahui daya juang peserta eksperimen. 

Hasilnya? Peserta di grup kedua dan grup ketiga ternyata jauh melampaui peserta di grup pertama dari segi lamanya waktu untuk mencoba menyelesaikan puzzle yang diberikan. Bahkan para peserta di grup pertama ternyata cepat menyerah.
 
Apa penjelasannya? Karena para peserta di grup pertama telah menggunakan semua willpower-nya untuk melawan hasrat makan cookies cokelat nan menggoda. Stok willpower-nya sudah habis. Habis bis. Nggak ada sisa buat puzzle.

Bukannya menahan diri dari makan cookies dan mengerjakan puzzle adalah dua hal yang tidak ada kaitannya? Ternyata walau kelihatan tidak ada kaitan satu dengan yang lain, para peserta eksperimen ini mengandalkan stok willpower yang sama. Stok kontrol diri, yang ternyata terbatas dan bisa cepat habis kalau banyak dipakai. Kenyataannya kita tidak sekuat yang kita kira.

Padahal di era sekarang, ujian willpower kita begitu banyak. Mau nabung dan investasi saham, godaan belanja online banyak. Mau kerja secara fokus dan produktif, godaan sosmed banyak. Mau olahraga weekend, Netflix datang menggoda. Gimana nggak cepat habis ya willpower kita?

Mungkin dalam beberapa hal, Nyai Ontosoroh lebih beruntung karena di zaman itu tidak harus menghadapi godaan online shopping, sosmed, dan Netflix. Walah, kok jadi nyalahin online shopping, sosmed, dan Netflix?

Kalau sudah memahami bahwa kita ini lemah, bahwa sekedar mengetahui saja tidaklah cukup, ada beberapa konsekuensi action besar yang harus dilakukan.

Tulisan Oriana di blog ini minggu lalu yang berjudul Mari Lompat itu menarik. Karena lompatan pertama itu begitu penting. Lompatan pertama itulah yang paling sulit dan memerlukan energi yang luar biasa besar. Tapi setelah itu, mengutip thought leader Tony Robbins, setelah memasuki state flow, segalanya akan menakjubkan. Persis seperti bagaimana Nyai Ontosoroh masuk ke state flow dalam mengelola bisnisnya, setelah melakukan lompatan besar dengan merubah mindset-nya dan belajar baca-tulis, berhitung, dan mengelola bisnis.

Selanjutnya adalah soal menjaga momentum. Dan, momentum itu penting. Karena kenyataannya, kalau kita perhatikan di sekeliling kita, orang yang gembira makin hari makin gembira. Orang yang marah, makin hari makin marah. The power of momentum.

Juga masih mengutip Tony Robbins, kunci dari mastery, dari penguasaan sesuatu, adalah repetition atau pengulangan. Repetition membuahkan skill. Dan salah satu cara untuk memastikan pengulangan ini adalah ritual. Kita adalah ritual kita sendiri.

Ritual menciptakan kebiasaan. Sampai suatu saat nanti pengulangan ini akan tertanam di otak kita. Tidak ada yang salah dengan menciptakan sedikit peraturan di sana sini. Paling tidak, pada awal fase perubahan.

Dalam bukunya The Happiness Advantage, Shawn Achor berpendapat bahwa dengan aturan dan ritual, kita sengaja mengurangi jumlah pilihan yang ada.

Misalnya di saat kita mau mulai menabung dan berinvestasi, kita bisa mulai dengan membuat aturan mengalokasikan persentase tertentu untuk investasi. Jangan diberi pilihan porsi ini ditabung atau untuk belanja, misalnya. Sampai menabung dan berinvestasi jadi kebiasaan. Kalau kita mau lebih fokus dan produktif di kantor, kita bisa membuat aturan untuk cek email hanya satu kali per jam misalnya.
 
Kalau mau berolah raga pagi hari, kita kurangi pilihan yang ada. Ketika kita dihadapkan pada pilihan mau pakai baju olah raga apa, kickboxing atau yoga, gym yang mana, mungkin kita sudah kecapekan mikir dan balik tidur lagi. Kurangi pilihan, putuskan pilihan baju sport (tidak mengherankan Mark Zuckerberg memilih baju dengan warna dan tipe yang sama tiap hari karena tidak mau menghabiskan stok willpower hanya untuk pilih baju), jenis olahraga, dan pilihan gym semalam sebelum tidur. Kalau perlu, kita tidur dengan memakai baju gym - yang bersih tentunya - sehingga ketika bangun tinggal gosok gigi dan langsung mulai olah raga.

Sehingga energi besar yang diperlukan untuk aktivasi tidak lagi kita perlukan. Dan stok willpower kita masih cukup untuk mengeksekusi perubahan.

Sudah siap untuk meminimalisir kebisingan dalam hidup kita, dan memaksimalkan willpower? Paling tidak, dengan melawan keterbatasan willpower, kita takkan sepenuhnya kalah.

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, 17 September 2019

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Risk - Reward Terbaik

Penggemar film-film adaptasi DC Comics akan langsu...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar investasi, belajar saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Menghindari Cedera, Mencari Cinta

“Nightmares are what we learn from in order ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Belajar Lupa

Salah satu keuntungan dari menghadiri Berkshire Ha...

Tags : belajar saham, belajar investasi, Blog Sucor Sekuritas, blog sucor,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Menikmati Perjalanan

Pensiun dini dan kemerdekaan finansial.  I...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.