Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Saatnya menikmati perjalanan yang kita pilih

Menikmati Perjalanan

Pensiun dini dan kemerdekaan finansial. 

Ini mimpi indah banyak orang. Saya sendiri pernah punya mimpi ini. Tepatnya bukan pensiun dini, tapi mengambil masa break panjang untuk sejenak menikmati hidup, sebelum memulai fase baru dalam karier. 

Lima tahun yang lalu, saya memberanikan diri untuk melakukan lompatan (jump) dari kuadran profesional ke kuadran entrepreneur. Dari hidup dengan dasi ke hidup tanpa dasi. Kesempatan untuk  merealisasikan mimpi saya, break panjang di antara fase profesional ke fase yang baru, akhirnya tiba. Minimum tiga bulan, saya akan menikmati masa break, begitu rencananya. 

Jalan pikiran saya waktu itu sederhana. Saya sudah bekerja sejak masih duduk di bangku SD, membantu di toko orang tua dan nenek sepulang dari sekolah. Di masa SMU dan kuliah, karena kondisi keuangan, berbagai pekerjaan sampingan pernah saya jalani. Saya pernah jualan vacuum cleaner dari pintu ke pintu. Juga jualan tinta cetak ke perusahaan-perusahaan percetakan di Surabaya dan sekitarnya. 

Buat pembaca yang pernah hidup di dunia sales, tentu tahu bahwa dunia itu selain penuh tawa, juga penuh air mata. Oleh karena itu, hubungan dengan rekan-rekan sesama sales umumnya dekat sekali. Seperti keluarga sendiri. Banyak berbagi cerita, yang lucu maupun yang kurang lucu. 

Misalnya, pernah saat tengah jualan vacuum cleaner, saya diminta oleh calon pembeli, yaitu nyonya pemilik rumah untuk melakukan demo di satu ruangan. Setelah ruangan bersih wangi, sang nyonya rumah bilang demo saya kurang meyakinkan. Dimintalah saya untuk demo lagi di ruang sebelahnya. Setelah selesai, masih belum juga puas. Tapi sekarang sudah ingin beli, katanya. 

“Satu ruangan lagi, ini yang terakhir, tanggung soalnya. Biar terasa bagaimana kalau seluruh rumah sudah bersih total. Saat suami saya pulang kerja, juga biar yakin bahwa ini vacuum cleaner top dan layak dibeli walau harga premium,” ujar sang nyonya memberi harapan. Ruang ketiga pun saya bersihkan dengan vacuum cleaner. Kinclong. Wangi. 

Tampak gembira dengan hasilnya, sang nyonya rumah bilang kalau dia sudah jatuh cinta dengan vacuum cleaner ini, tapi nanti dia akan runding dulu dengan suaminya. Saya akan dikabari. Tentu hati saya berbunga-bunga karena ini closing sales yang pertama sejak mulai jualan vacuum cleaner. Yang pertama kan selalu paling berkesan. 

Setelah beberapa hari, kabar indah yang dinanti tak kunjung datang. Saya pun menerapkan materi training direct selling yang diberikan kepada tenaga penjual: follow up dengan tekun. Awalnya telepon saya dijawab. Lama-lama dibilang oleh yang terima telepon (jaman itu belum ada ponsel) kalau sang nyonya rumah sedang tidak berada di rumah. Padahal suara penerima telepon persis sama dengan suara nyonya rumah.

Saya pun tersadar kalau saya hanya dimanfaatkan untuk membersihkan seisi rumah. Perasaan marah dan kesal bercampur jadi satu. Tega-teganya. Baru setelah bercerita ke rekan-rekan sales, saya bisa tertawa dan melihat sisi humor cerita ini. Ya sudah, direlakan saja, buat bahan tertawa. Anggap olah raga dan yang penting belajar dari pengalaman. 

Dengan berbagai warna masa lalu itu, saya pikir wajar untuk mengambil istirahat sejenak. Saya mau slow down dulu dan menikmati beberapa aktivitas favorit, tanpa beban pikiran soal pekerjaan. 

Pertama, saya punya rencana main golf tiap hari. Ternyata setelah main tiga hari berturut-turut, golf sudah tidak menarik lagi di hari keempat. 

Saya coba pindah ke hobi yang lain, yaitu martial arts. Khususnya saya ingin berlatih di kelas pagi hari dan setiap hari, ala atlet. Tapi karena saya bukan fighter profesional yang sedang mempersiapkan diri untuk bertanding, saya datang ke kelas jam 10 pagi. Ini adalah kelas setelah jam training untuk fighter profesional. Ternyata kelas jam 10 pagi ini isinya ibu-ibu. Lama-lama saya jadi sungkan sendiri. “Karier” martial arts saya pun berakhir. 

Saya coba jalan-jalan, minggu pertama dan kedua senang sekali. Minggu ketiga, masih lumayan senang, walau akhir minggu ketiga mulai terasa hambar. Minggu keempat, saya ingin pulang. Ternyata jalan-jalan jauh lebih nikmat kalau dilakukan saat cuti kerja. Kita semua berhak mendapatkan break dan liburan setelah bekerja keras, setelah mendorong diri kita dengan luar biasa untuk meraih prestasi. Tapi travelling terus-menerus, bahkan “hanya” sebulan dalam pengalaman saya, sudah cukup untuk membuat kangen pulang. 

Ada teman yang menganjurkan untuk mencoba hal-hal yang tadinya tidak mungkin saya lakukan di fase super sibuk mengejar karier. Misalnya nonton bioskop di jam kerja. Saya sudah coba juga. Setelah beberapa film, I have had enough

Mau main dengan anak, mereka sibuk sekolah dan aktivitas ekstrakurikuler. Akhirnya, secara keseluruhan, saya hanya sempat break satu setengah bulan. Dari rencana awal minimum 3 bulan. Hikmahnya, saya jadi lebih sadar, bekerja itu kenikmatan yang luar biasa. Bahkan pengalaman dibohongin calon pembeli vacuum cleaner pun tiba-tiba jadi indah.  

Saya merindukan kembali bekerja. Saya merindukan saat saya pulang dari kantor, lalu istri dan kedua putri menyambut dengan pelukan hangat. Juga saya merindukan suasana kantor yang penuh dengan compassion, sense of belonging, dan lingkungan yang saling mendukung untuk bertumbuh. Yang tidak kalah penting, saya juga rindu untuk di-challenge oleh rekan kerja, untuk terus maju. Belajar dari bidang olah raga, salah satu kunci sukses di profesi kita adalah immersion, keterlibatan mental dengan orang-orang dengan standar kerja yang tinggi, yang ingin menjadi yang terbaik di bidangnya. 

Tentu tidak ada yang salah dengan punya cita-cita untuk pensiun dini. Hanya saja kita mungkin perlu bertanya, apakah pensiun dini dan kebebasan finansial berarti bermalas-malasan dan menghindari aktivitas? Leyeh-leyeh, santai-santai dan tidak berbuat apapun? Bepergian terus-menerus sambil tertawa senang setiap saat hanya ada di dunia Instagram dan WAG, bukan di dunia nyata. Nonton film dan main sosmed seharian juga bukan definisi dari hidup yang berarti. Juga bukan definisi dari kemerdekaan, finansial maupun non-finansial. 

Mungkin definisi yang lebih tepat dari pensiun dini dan kemerdekaan finansial adalah kita bekerja bukan karena kita harus bekerja. Tapi karena kita ingin mengejar dan membangun sesuatu yang benar-benar adalah passion kita. Karena hambatan besar, yaitu kewajiban mencari nafkah, sudah tidak lagi “menghalangi” kita untuk mengejar passion

 

Keberuntungan yang datang dari bekerja dengan hati 

Salah satu implikasi dari pandangan pensiun dini sebagai cita-cita adalah bahwa kita mengganggap pekerjaan kita sebagai beban, bukan berkat. Padahal nilai sesungguhnya dari mencapai cita-cita berada pada bukan reward atau hadiah kalau cita-cita itu tercapai. Tapi lebih ke “akan jadi siapa kita” saat cita-cita itu tercapai. 

Dengan sudut pandang seperti ini, kita akan dapat lebih menikmati perjalanan untuk mencapai tujuan kita. Perjalanannya sama pentingnya dengan reward-nya.

Misalnya tujuan kita adalah mempunyai kemampuan finansial untuk membantu yang kurang beruntung, atau menjadi orang tua yang lebih baik, atau menjadi pemimpin yang lebih bijaksana, maka kita akan bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik dalam prosesnya. Perjalanan ke arah tujuan ini, menjadi manusia yang lebih baik, juga semestinya kita rayakan. 

Perjalanan kita memungkinkan kita menjadi manusia yang lebih disiplin, lebih bersyukur, dan lebih produktif. Bukankah ini juga reward yang patut kita syukuri? Prosesnya tenyata sama serunya dengan tujuannya. Pekerjaan tidak lagi menjadi beban, tapi menjadi sesuatu yang menyenangkan. Dalam prosesnya, kita menjadi orang yang lebih bahagia.

Dan orang yang bahagia cenderung lebih disukai, lebih banyak teman. Lalu, karena banyak yang suka, akhirnya lebih beruntung. Contoh nyata mengenai hal ini ada di buku memoar Robert Kuok, salah satu orang terkaya di dunia dari Malaysia. Di sana diceritakan bagaimana Robert Kuok muda bekerja di Mitsubishi di akhir masa penjajahan Jepang di Malaysia. 

Di bulan Agustus 1945, setelah Jepang kalah perang, bos Mitsubishi memberitahu semua karyawan bahwa pekerjaan mereka selesai. Semua karyawan kena PHK. Robert Kuok bilang ke bosnya Uemura-san kalau dia akan tetap bekerja walau tidak dibayar. Karena masih ada PR yang belum selesai. Tanpa motif dan tidak mengharap apapun. Bekerja dengan hati. 

Tanpa disangka, Uemura datang ke Robert Kuok dan bilang kalau Mitsubishi punya stok rokok 200-300 bal. Uemura “menjual” rokok dalam jumlah besar ini ke Robert Kuok dan cukup dibayar dengan banknote Jepang yang sudah tidak ada nilainya. Keberuntungan luar biasa yang didapatkan oleh Robert Kuok karena bekerja dengan hati. Karena menikmati proses dan perjalanan untuk mencapai tujuannya. 

 

Menjadi trader atau investor full time: bukan untuk semua orang

Perihal investasi, saya adalah penggemar konsep passive income-nya Robert Kiyosaki. Sangat masuk akal untuk terus membangun passive income untuk bisa keluar dari rat race, dan pada akhirnya bisa pensiun dini dan meraih kemerdekaan finansial. 

Hanya saja saya sering berjumpa dengan teman-teman yang mau membawa konsep ini ke level yang lebih tinggi, lalu memaksakan diri untuk hidup hanya dari hasil investasi, atau trading saham. Tentunya setelah sejumlah modal terkumpul. 

Memang tidak ada yang salah dengan konsep menjadi trader atau investor full time, apalagi kalau memang jagoan trading atau investasi. 

Hanya saja, perlu dipikirkan apakah kita mampu untuk mengendalikan emosi. Seringkali teman yang keluar dari pekerjaan untuk pensiun dini dan meraih kemerdekaan finansial memasang “tarif psikologis”, yaitu minimum profit per bulan untuk menggantikan “income yang hilang” karena mengundurkan diri dari pekerjaan. 

Akibatnya, mereka memaksakan diri untuk trading, walaupun odd-nya so-so saja. Hasilnya seringkali  jauh dari optimal. Juga, uang yang yang diinvestasikan jadi bukan uang dingin. Karena tidak sabar menunggu. Prosesnya menjadi terlalu intens. Apalagi kalau baca group WA dan ada yang klaim untung besar di saham. Makin panas. 

Berbeda dengan investor yang masih mempunyai karier dan tidak bergantung penuh pada hasil trading ataupun investasi saham. Uangnya lebih dingin, uang sabar, yang bisa menanti kesempatan investasi yang lebih baik. Karena toh tanggal 25 masih gajian. Atau masih ada profit dari bisnis. Dapur masih akan mengepul.

Kalaupun tidak punya waktu mengikuti pergerakan harga saham atau tidak punya appetite untuk mengikuti volatilitas harga saham, sebenarnya bisa berinvestasi di reksa dana. Karena saham juga bukan untuk semua orang. 

Masih mimpi pensiun dini? Be careful what you wish for.

 

 

“The reward for a thing well done, is to have done it”

Ralph Waldo Emerson

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Risk - Reward Terbaik

Penggemar film-film adaptasi DC Comics akan langsu...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar investasi, belajar saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Menghindari Cedera, Mencari Cinta

“Nightmares are what we learn from in order ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Belajar Lupa

Salah satu keuntungan dari menghadiri Berkshire Ha...

Tags : belajar saham, belajar investasi, Blog Sucor Sekuritas, blog sucor,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Menikmati Perjalanan

Pensiun dini dan kemerdekaan finansial.  I...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.